Profile Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas

Lambang Kejayaan Islam di Kalimantan Barat

 

 

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas merupakan daya tarik wisata sejarah yang terdapat di Kabupaten Sambas dan menjadi lambang kebesaran serta kejayaan kerajaan islam di Kalimantan Barat, selain Masjid Agung Sambas yang juga terletak di kawasan ini.

Kesultanan Sambas didirikan oleh Raden Sulaiman yang bergelar Sultan Muhammad Syafi’uddin I, pada hari Senin, 10 Zulhijjah 1040 H/ 9 Juli 1631 M, terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat.

Istana Alwatzikhoebillah berada pada pertemuan Sungai Sambas Kecil, Sungai Subah, dan Sungai Teberau, jaraknya hanya berkisar 1 km dari pusat Kota Sambas.

Jam Buka Istana Alwatzikhoebillah

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas terbuka bagi masyarakat umum yang ingin melihat langsung peninggalan dan simbol kejayaan islam di Tanah Borneo.

Istana ini dibuka setiap hari mulai dari jam 09:00 sampai dengan jam 15:00. Pada hari-hari besar, biasanya diadakan acara di istana ini, sehingga masyarakat bisa hadir untuk menyaksikan perayaan tersebut.

Deskripsi Istana Alwatzikhoebillah

65.000 Gulden?

 

 

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas terletak di daerah pertemuan Sungai Sambas, dengan luas tanah 16.781 m2 membujur arah barat-timur.

Istana Alwatzikhoebillah yang ada sekarang, dibangun oleh Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin (1931-1943), sultan ke-15, pada tahun 1933 dan ditempati pada tanggal 6 Juli 1935.

Pembangunan ini menghabiskan biaya mencapai 65.000 gulden dan dilaksanakan oleh Tjin Nyuk dari Pontianak, dengan luas bangunan istana berukuran panjang 9,50 m dan lebarnya 8,05 m.

Sebagai sebuah bangunan di tepian sungai, pastinya pada zaman dahulu perahu sudah menjadi alat transportasi. Terlebih, tepian Sungai Sambas sejak awal telah menjadi daerah pemukiman warga dengan mendirikan rumah rakit/ rumah kolong.

Terdapat dermaga atau dikenal dengan seteher yang terletak di depan istana untuk perahu/kapal bersandar. Dermaga ini memiliki struktur menjorok ke tengah sungai dan terdapat jalan menuju istana yang melewati gerbang istana.

 

Gerbang Segi Delapan

 

 

 

Begitu melangkahkan kaki menuju ke dalam istana, maka kita akan disambut dengan bangunan yang semuanya berlapiskan kayu. Bangunan ini disebut dengan Gerbang Segi Delapan yang menjadi gerbang pintu masuk halaman Istana Alwatzikhoebillah dan memiliki nilai filosofi serta kegunaan tersendiri pada zaman dahulu. Gerbang masuk ini dibuat bertingkat dua dengan bentuk segi delapan dan memiliki luas 76 meter2.

Ruang pada gerbang di bagian bawah difungsikan sebagai tempat penjaga dan tempat beristirahat rakyat yang berkunjung ke istana sebelum memasuki halaman utama dan bertemu sultan. Sedangkan ruang bagian atas berfungsi untuk tempat mengatur penjagaan dan pada saat-saat tertentu digunakan sebagai tempat untuk menabuh gamelan dan alat-alat kesenian lainnya.

Desainnya unik ya?

Hmm..memang unik dan menarik. Selain unik, gerbang ini juga memiliki nilai filosofi tersendiri. Arti dari bentuk segi delapan adalah delapan penjuru mata angin, sehingga kita harus memiliki pandangan serta wawasan dari arah manapun dan sebagai bentuk untuk mengenang jasa pendiri istana.

Atap Gerbang Segi Delapan yang berbentuk segiempat merupakan simbol sultan yang telah mengikuti sifat Rasulullah saw. Yakni : Siddiq (Benar), Amanah (Kepercayaan), Tabligh (Menyampaikan), dan Fathanah (Pintar).

 

Si 3 Penjaga 4

Setelah melalui pintu gerbang pertama yang bersegi delapan, maka di tengah halaman istana, mata kita akan langsung tertuju kepada tiang bendera yang berfungsi untuk mengibarkan bendera Kesultanan Sambas berwarna kuning emas pada tiap hari besar pada zaman kesultanan dahulu.

 

 

Tiang yang ditopang oleh 4 kayu lainnya dan “dijaga” oleh 3 meriam kuno memiliki makna yang terkandung di dalamnya.

Tiang bendera utama melambangkan sultan, dan 4 tiang penyangga di sekelilingnya melambangkan empat pembantu sultan yang disebut Wazir.

Di bawah tiang bendera terdapat 3 meriam kuno, hadiah dari tentara Inggris pada tahun 1813, salah satunya beranama Si Gantar Alam, yang melambangkan tiga buah sungai yang terdapat di sekitar istana harus selalu dijaga.

Di area ini pula, pahlawan Sambas, Tabrani Ahmad gugur ditembak tentara Belanda saat mempertahankan merah putih.

Dua tiang penyangga pada sisi kiri dan kanan tiang melambangkan bahwa dalam menjalankan roda pemerintahannya, sultan selalu didampingi oleh ulama dan khatib.

“Berpegang Teguh dengan Nama Allah Swt.”

 

 

Di bagian kiri halaman, tidak jauh dari tiang bendera terdapat pohon kayu putih yang ditanam atas perintah sultan, Panglima Daud dan Bakar, untuk mengenang peristiwa selesainya Perang Sungkung pada tahun 1883.

Di sisi sebalah barat daya halaman, kita juga bisa melihat kokohnya Masjid Agung Jami’ Sambas yang dibangun dengan kayu belian serta memiliki arsitektur melayu yang sangat kental.

 

Sebelum melanjutkan langkah kaki menuju ke bangunan utama Istana Alwatzikhoebillah, kita harus melewati gerbang utama yang berlantai dua dan berbentuk persegi panjang.

Bagian bawah dari gerbang ini berfungsi sebagai tempat para penjaga yang bertugas selama 24 jam, sedangkan bagian atas digunakan oleh keluarga sultan untuk beristirahat sambil menyaksikan aktivitas kehidupan rakyatnya sehari-hari.

Gerbang utama ini memiliki arsitektur melayu yang sangat kental, mulai dari atap yang menggunakan atap sirap pada pembuatannya dan warna dari gerbang ini menunjukan arsitektur kesultanan melayu pada umumnya. Sebaiknya, anda menghentikan langkah kaki anda dan berfoto dengan latar belakang gerbang ini.

 

 

Setelah melewati gerbang kedua dan pagar halaman inti, maka tibalah kita pada bangunan utama istana. Bangunan utama ini berukuran 11,50 x 22,60 m dan pada bagian atas pintu istana terdapat tulisan “Alwatzikhoebillah” yang berarti “Berpegang Teguh dengan Nama Allah swt.” Maknanya adalah seluruh sultan yang memerintah kesultanan harus berlandaskan agama Islam dan berpegang teguh pada hukum Allah swt. dan Hadits Nabi Muhammad Saw.

 

Lambang Kesultanan Sambas

 

       Adapun lambang yang terdapat di Istana Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin adalah Bintang Tiga Belas yang di dalamnya terdapat tulisan angka 9 bermakna bahwa istana ini dibuat oleh sultan yang kesembilan yaitu Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Tsafiuddin.

Selain itu, keberadaan dua ekor elang laut melambangkan bahwa Kesultanan Sambas pernah berjaya dan mempunyai angkatan laut yang kuat.

 

Bangunan utama Istana Alwatzikhoebillah diapit oleh dua bangunan berbentuk limasan. Di sisi kiri istana utama terdapat bangunan yang berukuran 5x26 meter. Pada zaman dahulu, bangunan ini difungsikan sebagai dapur dan tempat para juru masak istana untuk menyiapkan bagi keluarga sultan. Di sisi kanan bangunan utama, terdapat bangunan yang ukurannya sama seperti dapur dan difungsikan sebagai tempat sultan dan pembantunya bekerja.

Bangunan-bangunan ini dihubungkan dengan lorong beratap dengan ukuran 5,90 x 1,50 m. Di sebelah utara bangunan utama istana, dulunya digunakan untuk rumah pengawal.

 

Begitu kita masuk ke dalam ruang utama Istana Alwatzikhoebillah, maka bangunan ini tediri dari tujuh ruangan.

Balairung terletak di bagian depan dan kita bisa melihat di sekeliling kita terdapat empat cermin besar di setiap sudut ruang tamu dan koleksi foto Kesultanan Sambas.

Selain itu, begitu kita masuk lebih dalam, kita akan melihat kamar tidur sultan, kamar tidur istri sultan, dan kamar tidur anak-anak sultan yang berhiaskan kain berwarna kuning.

Warna kuning yang mendominasi di Istana Alwatzikhoebillah, juga sama seperti warna dominan yang terdapat di Istana Kadriah Pontianak, di mana warna ini menjadi lambang tersendiri bagi kebudayaan melayu yang  melambangkan kejayaan dan budi pekerti.

 

 

Selain itu, di kamar sultan terdapat busana atau pakaian kebesaran sultan yang disimpan dalam sebuah lemari kaca, payung kesultanan, pedang, meja tulis sultan, dan barang lainnya. Pada bagian dinding kamar, terpajang foto-foto keluarga sultan yang pernah memerintah Kesultanan Sambas.

Ketika kita keluar dari kamar dan ingin menuju ke ruang keluarga, maka di atas pintu yang menghubungkan balairung dan ruang keluarga terdapat lambang Kesultanan Sambas dengan tulisan “Sultan Van Sambas” dan tanggal 15 Juli 1933 sebagai tanggal peresmian istana.

Bangunan yang berada di sebelah utara bangunan utama istana ini, pada zaman dahulu digunakan untuk rumah pengawal, di ruangan paling depan sering digunakan oleh sultan sebagai tempat bersemedi atau bertapa dan sebagai tempat penyimpan pusaka.  Selain itu, terdapat ruang makan dan ruang khusus menjahit untuk membuat segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan keluarga sultan.

 

Ada Cerita Unik ?

Begitu kaki terus melangkah hingga ke bagian belakang rumah sultan, terdapat menara air yang berfungsi sebagai penampungan air sebelum dialirkan melalui pipa ke seluruh kompleks Istana Alwatzikhoebillah.

Searah dengan menara air, tepatnya di sebelah timur laut dari istana, terdapat kolam pemandian yang dulunya digunakan sebagai tempat pemandian para permaisuri dan putri sultan.

Konon katanya, terdapat kepercayaan masyarakat sekitar yang mengatakan bahwa jika kita mengambil air yang terdapat di tempat tersebut, lalu meminum dan mencuci muka, maka air tersebut akan memberikan efek positif kepada orangnya.

Di sekitar istana juga terdapat pemakaman raja-raja dan keluarga istana, di antaranya makam Sultan Syafiuddin II (penulis Buku Silsilah Sambas), makam Permaisuri Ratu Anom Kesuma Ningrat, dan keturunan lainnya.

 

 

Setelah mata dan rasa ingin tahu kita telah terjawab ketika mengelilingi Istana Alwatzikhoebillah ini, maka kita akan menyadari bahwa betapa berperannya istana ini dalam pengembangan kejayaan agama Islam dan pembumian budaya melayu di Kalimantan Barat.

Ingin menjelajah salah satu istana terbesar dan tertua di Kalimantan Barat? Ingin melihat arsitektur melayunya yang begitu kental dan merasakan sensasi mencuci muka menggunakan air di lingkungan istana? Silahkan, kunjungi Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas.

 

Transportasi Menuju Istana Alwatzikhoebillah

Kendaraan Pribadi

       Jika memulai perjalanan dari Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Pontianak – Kabupaten Sambas -  Jalan Pembangunan – Jalan Tabrani – Jalan Sultan Moh. Tsyafiuddin – Jalan Gusti Hamzah – Jalan Ahmad Marzuki - Belok Kiri - Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas. Waktu tempuh dari Kota Pontianak jika tanpa hambatan macet sekitar 4 jam 40 menit / 242 Km.

 

Kembali ke:

Wisata di Sambas

Wisata di Kalimantan Barat

Wisata di Nusantara

Informasi tempat wisata dan lainnya bisa di akses dengan mudah menggunakan aplikasi IPD Belajasaku,bisa di pilih sesuai propinsi.Bagi pengguna android silahkan downlod aplikasinya klik logo di bawah ini

Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas
Istana Alwatzikhoebillah Kesultanan Sambas