Ingin memasang iklan diskon anda di sini? Cepat dan Mudah. Klik Tombol di bawah ini dan silahkan pasang iklan diskon anda.

Rumah panjang adalah rumah adat Suku Dayak khas Kalimantan yang terdapat di berbagai penjuru Kalimantan. Berada terutama di daerah hulu sungai yang biasanya menjadi pusat pemukiman Suku Dayak. Sungai merupakan jalur transportasi utama bagi Suku Dayak untuk melakukan berbagai mobilitas kehidupan sehari-hari seperti pergi bekerja ke ladang, yang biasanya jauh dari pemukiman atau melakukan aktifitas perdagangan.
Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang merupakan rumah panjang yang terletak di Dusun Saham, Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, sekitar 200 kilometer dari ibukota Kalimantan Barat, Pontianak.
Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang tidak memiliki jam buka pada umumnya. Jadi anda bisa datang kapan saja. Sebagai saran, jika anda ingin berfoto dengan view yang bagus, sebaiknya anda datang pada sore hari atau pagi hari.
Pada hari-hari besar, biasanya Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang akan diadakan acara tradisional Suku Dayak Kalimantan Barat.
Rumah Betang adalah sebuah peninggalan sejarah masa lalu dan masih terus dilestarikan dan dipertahankan oleh masyarakat Dayak hingga kini.
Sebuah peninggalan sejarah masa lalu yang menceritakan secara tersirat kehidupan Suku Dayak yang penuh perjuangan dan panjang di masa lampau dalam hidup berdampingan dengan alam.
Mendengar nama Rumah Panjang Saham, tidak asing lagi masyarakat di Kabupaten Landak, dan Kalimantan Barat pada umumnya. Tapi bagi daerah lain, nama Rumah Panjang Saham ini sangat unik.
Menurut cerita orang tua terdahulu Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang didirikan pada tahun 1875. Rumah tersebut terdiri dari 35 pintu dan panjang 180 meter yang dihuni oleh suku Dayak Kanayatn Bukit.
Sekitar tahun 1960-an, terjadi penghancuran rumah adat Suku Dayak oleh pemerintah kala itu. Pemerintah menganggap, gaya hidup komunal masyarakat Dayak menyerupai gaya hidup komunis. Pemerintah khawatir dengan semangat solidaritas penghuninya yang dapat mengancam keamanan negara dan tuduhan hidup bersama di rumah panjang tidak sehat karena bertentangan dengan moral.
Sejak itulah, mulai sulit menemukan rumah panjang, khususnya di Kalimantan Barat, yang dihuni ratusan keluarga seperti dulu kala.
Namun di sini, rumah betang yang berusia hampir 140 tahun itu hingga kini masih dihuni. Rumah panjang itu tidak kehilangan nilai eksotis dan historisnya. Panjangnya 186 meter dengan lebar sekitar 10 meter dan tinggi lantai sekitar 7 meter dari tanah. Rumah ini memiliki 35 bilik yang dihuni sekitar 200 jiwa.
Di saat kita mulai memasuki kawasan Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang ini, maka mata kita akan langsung tertuju pada deretan tangga-tangga kayu yang begitu banyak. Tak heran jika banyak wisatawan lokal maupun mancanegara langsung mengeluarkan kameranya dan berfoto dengan latar tangga-tangga kayu tersebut, sebagai satu di antara ciri khas Rumah Betang.
Sisi lain yang menarik jika kita memasuki kawasan Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang yaitu arsitektur yang digunakan. Sesuai dengan namanya, rumah adat ini merupakan rumah panggung dengan tinggi 7 meter. Bukan tanpa alasan rumah adat ini dibangun berbentuk panggung. Alasan rumah Suku Dayak dibentuk berpanggung dimaksudkan untuk melindungi keluarga dari serangan binatang buas dan antisipasi jika terjadi banjir. Desain yang tinggi juga sebagai bentuk pengamanan dari serangan antar-subsuku Dayak pada zaman Ngayau (mencari kepala manusia sesama suku Dayak).
Perlahan namun pasti, tapak demi tapak kaki ini terus melangkah menaiki tangga yang biasanya disebut Hejot. Di bagian depan terdapat 35 tangga. Jumlah tangga itu disesuaikan dengan jumlah bilik (kamar) yang ada. Sebab, di rumah panjang itu berlaku kepercayaan, jika penghuni salah satu bilik meninggal, saat pemakaman tidak boleh menggunakan tangga penghuni bilik lain karena dianggap ada sial. Sesampainya di atas, mata kita akan dijamu dengan pemandangan dinding dan lantai rumah dengan bahan kayu ulin / kayu besi atau oleh masyarakat Kalimantan Barat biasa disebut kayu belian. Dengan kayu belian inilah Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang bertahan hingga ratusan tahun lamanya.
Bagian depan rumah betang terdiri menjadi dua bagian. Saat ini, ketika anda masih di luar, itu disebut dengan Pante yang merupakan lantai bagian luar atap yang menjorok keluar, masyarakat di sini memanfaatkannya sebagai tempat menjemur padi, pakaian, untuk mengadakan Upacara penyambutan Tamu Agung, sunatan dan upacara adat lainnya. Sebaiknya, anda berhenti sejenak di luar lalu menikmati pemandangan yang begitu indah, dihiasi dengan latar belakang pegunungan di atas rumah yang begitu panjang, tanpa lupa untuk mengabadikan momen tersebut.
Setelah itu, kita akan masuk ke bagian dalam rumah ini yang disebut Serambi, yaitu pintu masuk setelah melewati Pante yang jumlahnya sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Biasanya, di depan serambi ini apabila ada upacara adat kampung dipasang tenda khusus seperti sebatang bambu yang kulitnya diraut halus menyerupai jumbai-jumbai ruas demi ruas. Setelah kita masuk ke dalam serambi, maka kita akan melihat wanita-wanita dan anak-anak beraktifitas di atas Pene.
Di ruang tamu terdapat Pene, semacam meja berukuran 3 meter x 3 meter dengan tinggian sekitar 0,5 meter sebagai tempat bagi masyarakat untuk beraktifitas khususnya wanita dan anak-anak seperti menenun, membaca, dan lainnya. Selain itu, Pane juga dijadikan tempat duduk saat menerima tamu, tempat untuk berbincang dengan tamu, dan jika tamu menginap di rumah juga menjadi tempat tidur. Jika anda berkunjung di sini, maka anda bisa duduk di Pane dan berbincang dengan masyarakat sekitar.
Di depan Pane akan terdapat kamar-kamar tinggal tempat masyarakat Suku Dayak. Setiap ruangan disekat-sekat dengan dinding yang terbuat dari papan kayu. Mata kita akan diperlihatkan sebuah pengalaman yang takkan terlupakan mengenai rumah yang begitu panjang seakan-akan tak berujung.
Di dalam Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang, tak semata berisi pintu-pintu masuk ke rumah tinggal. Di sela-selanya, ada pula warung yang menjual aneka jajanan sampai kebutuhan pokok semacam minyak goreng dan beras. Selain itu, di belakang rumah Betang terdapat dapur yang disebut masyarakat sekitar Uakng Mik. Setiap keluarga penghuni rumah panjang memiliki satu dapur untuk memasak.
Jika anda berkunjung atau berlibur ke Kalimantan Barat, pastikan untuk berkunjung ke Rumah Betang/ Panjang Saham Ngabang yang menjadi salah satu ikon wisata adat di Kabupaten Landak. Apalagi jika bersamaan waktunya dengan acara-acara besar yang diadakan seperti Naik Dangau, Pesta Panen Padi, dan lainnya.
Tampilannya yang unik nan megah, sering mengundang turis lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke tempat ini. Rumah adat yang menjadi rumah adat Suku Dayak selain Rumah Radakng Kota Pontianak, yang menyimbolkan semangat kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan masyarakat. Rumah yang menjadi “Saham Terbesar” bagi anak cucu Suku Dayak di masa depan.
Jika memulai perjalanan dari Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Pontianak – Kabupaten Landak/ Kota Ngabang - Jalan Raya Pahauman Ngabang – Belok Kanan sekitar 1,5 km –Desa Saham. Waktu tempuh dari Kota Pontianak jika tanpa hambatan macet sekitar 3 jam 30 menit / 159 Km.
Jika memulai perjalanan dari Kota Singkawang, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Singkawang – Kabupaten Mempawah – Kabupaten Landak/ Kota Ngabang - Jalan Raya Pahauman Ngabang – Belok Kanan sekitar 1,5 km –Desa Saham. Waktu tempuh dari Kota Singkawang jika tanpa hambatan macet sekitar 3 jam 40 menit / 176 Km.
Lokasi Rumah Panjang Saham
Kembali ke: