Ingin memasang iklan diskon anda di sini? Cepat dan Mudah. Klik Tombol di bawah ini dan silahkan pasang iklan diskon anda.

Dikala Meriam Ditembakkan
Tanda Sultan Menandai Kekuasaan
Masjid Jami Dibangun Untuk Dekat Kepada Tuhan
Tepian Sungai Letak Masjid Sang Sultan
Masjid Dibangun Dari Kayu Belian
Warna Kuning Melambangkan Keagungan
Enam Tiang Penyangga Utama Simbol Rukun Iman
Mimbar Bertahta Didirikan Sultan Syarif Usman
Wahai Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman
Syair di atas merupakan syair yang melukiskan kondisi Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman. Masjid ini terletak di sebelah timur Sungai Kapuas Besar, Jalan Tanjung Raya I, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur, tepatnya di depan Istana Kadriah.
Masjid ini merupakan masjid tertua dan merupakan satu dari dua bangunan yang menjadi saksi berdirinya Kota Pontianak. Pada awalnya, masjid ini juga digunakan sebagai pusat pemerintahan bagi Kesultanan Pontianak.
Nama masjid ini diberikan oleh Syarif Usman Alkadri yang merupakan anak dari Sultan Syarif Abdurrahman yang meneruskan pembangunan masjid hingga selesai.
Pemberian nama masjid ini diberikan oleh Syarif Usman sebagai bentuk untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa sang ayah yang telah menggagas pembangunan masjid ini.
Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman tidak memiliki jam buka pada umumnya. Masjid ini dibuka saat memasuki waktu shubuh di mana masyarakat mulai berdatangan untuk mengadakan shalat shubuh dan ditutup saat malam hari yaitu sesudah shalat isya.
Pada hari-hari besar, biasanya akan diadakan acara di masjid ini, seperti MTQ, pengajian, dan acara lainnya.
Mengawali langkah kaki memasuki komplek Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman, kita akan disambut dengan bentuk dan struktur bangunan masjid yang begitu megah nan indah.
Masjid ini mayoritas dilapisi oleh cat berwarna kuning, ditambah dengan tambahan cat berwarna hijau di beberapa bagian. Masjid ini mampu menampung sekitar 1.500 jamaah.
Pada sisi kiri pintu masjid terdapat pasar ikan tradisional, di belakangnya adalah Kampung Beting, dan di bagian depannya, yang juga menghadap ke barat terbentang Sungai Kapuas.
Berada di kawasan tanah delta sungai, pondasi masjid ini dibangun sekitar satu meter dari permukaan tanah. Di luar ruangan masjid, terdapat tiang-tiang pinggir yang difungsikan sebagai penyangga atap, kusen pintu, serambi, dan jendela.
Pada bagian atas jendela, bisa kita lihat terdapat kaca kristal berwarna hijau, biru, merah muda, dan merah. Ukuran pintu dan jendela yang cukup besar pada Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman, menunjukkan bahwa desain ini mirip dengan pintu bergaya eropa.
Memasuki bagian dalam masjid, kita akan melihat 6 tiang besar berada di tengah-tengah ruangan. Masjid ini ditopang dengan enam tiang penyangga utama, yang terbuat dari kayu belian utuh berbentuk bulat dengan diameter sekitar 60 cm.
Enam tiang penyangga ini, memiliki nilai filosofi sebagai lambang dari Rukun Iman. Di sisi lain, terdapat 14 tiang pembantu berbentuk segiempat.
Di dalam masjid, juga terdapat mimbar yang pada sisi kanan dan kiri mimbar, terdapat kaligrafi yang ditulis pada kayu plafon. Sekilas, mimbar ini memiliki arsitektur unik seperti geladak kapal.
Di atasnya terdapat papan bertuliskan huruf arab yang berarti bahwa masjid ini dibangun oleh Sultan Syarif Usman pada hari Selasa, bulan Muharram tahun 1237 H.
Dari kejauhan, bagian atas dari Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman akan mencuri perhatian para pengunjung. Sebab, bagian atas masjid ini merupakan ciri khas tersendiri bagi Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurahman.
Bagian atap masjid ini terdiri dari tiga tingkat, dengan berbahan sirap, semakin ke atas, maka atap akan semakin kecil. Pada setiap tingkat terdapat jendela kecil.
Pada atap kedua, di setiap sisi sudut terdapat miniatur kubah kecil. Atap paling atas yang berbentuk kubah, ini memiliki kesamaan dengan bagian atas Istana Kadriah.
Makna filosofis dari bentuk yang berbeda tersebut melambangkan tentang pencapaian umat manusia dalam upaya pendekatan kepada Sang Pencipta. Bagian pertama simbol dari syariat, kedua simbol makfirat, dan bagian ketiga simbol dari hakikat. Sedangkan empat kubah di setiap sudut atap simbol dari empah mahzab islam.
Di dalam masjid ini, semua bersimpuh menyucikan diri di hadapan Allah. Di dalam rumah Allah, Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, mereka duduk di antara 6 penyangga tiang utama. Di depan mimbar yang dibangun oleh sang raja. Di kelilingi oleh 14 tiang pembantu dan jendela berbentuk segi empat.
Ada cerita unik dan sebuah kepercayaan di kalangan masyarakat yang mengatakan kepada para jamaah. Barangsiapa yang beribadah di antara 6 tiang utama tersebut, selama 3 kali jumat berturut-turut, maka keinginannya akan terkabul. Begitulah hakikat kota pusaka, yang memiliki seribu cerita, di antara ornamen masjid jami’ yang penuh dengan berbagai makna.
Jika memulai perjalanan dari Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, maka anda bisa memilih untuk melewati Jalan Arteri Supadio – Bundaran Jalan Arteri Supadio belok ke kanan - Jalan Trans Kalimantan – Jalan Tanjung Raya II – Jalan Tanjung Raya I – Belok kiri memasuki kawasan Kesultanan Kadriah Kota Pontianak – Belok kanan memasuki Jalan Kampung Masjid. Waktu tempuh dari Bandara Supadio sekitar 35 menit / 17,7 Km.
Jika anda memulai perjalanan dari Kota Singkawang sebagai satu di antara pusat wisata di Kalimantan Barat, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Singkawang – Kota Pontianak – Jalan Tanjung Raya I – Belok kiri memasuki kawasan Kesultanan Kadriah Kota Pontianak – Belok kanan memasuki Jalan Kampung Masjid. Waktu tempuh dari Kota Singkawang jika tanpa hambatan macet sekitar 3 jam / 149 Km.
Kembali ke:
Informasi tempat wisata dan lainnya bisa di akses dengan mudah menggunakan aplikasi IPD Belajasaku,bisa dipilih sesuai propinsi.Bagi pengguna android silahkan downlod aplikasinya klik logo di bawah ini