Profile Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas

Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas

Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas

Masjid Tertua di Kalimantan Barat

 

 

Masjid Kesultanan Sambas terletak di Desa Dalam Kaum, Kecamatan Sambas. Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami Istana Sambas ini adalah masjid yang berada di kompleks Kesultanan Sambas. Nama resminya adalah Masjid Sultan Muhammad Syafi'uddin II dan tercatat sebagai masjid tertua di Kalimantan Barat.

Kerajaan Sambas menganut agama Islam pada masa pemerintahan Sultan Raden Sulaiman bergelar Sri Sultan Mohammad Tsafiuddin I pada 10 Zulhijjah 1040 H. Setelah beliau wafat, sebagai penggantinya dilantiklah Sultan Tsafiuddin II sebagai sultan di Istana Sambas. Pada masa Sultan Tsafiuddin II inilah masjid dibangun sekitar 1885 M dibantu oleh Pangeran Bendahara Mangkuningrat.

Masjid Sultan Muhammad Syafi'uddin II ini awalnya merupakan rumah sultan yang kemudian dijadikan mushala, lalu dikembangkan menjadi masjid yang semegah dan seantik ini.

Jam Buka Masjid Sultan Muhammad Syafi’uddin II

Masjid Sultan Muhammad Syafi'uddin II Kesultanan Sambas terbuka bagi masyarakat umum dan tidak memiliki jam buka seperti umumnya, yaitu mulai dibuka saat memasuki waktu shubuh di mana masyarakat akan berdatangan untuk mengadakan shalat shubuh dan ditutup saat malam hari yaitu sesudah shalat isya.

Pada hari-hari besar Islam, biasanya akan diadakan acara di masjid ini, seperti MTQ, pengajian, dan acara lainnya.

 

Deskripsi Masjid Sultan Muhammad Syafi’uddin II

 

 

Mengawali langkah kaki memasuki kompleks Masjid Sultan Muhammad Syafi'uddin II Kesultanan Sambas, kita akan disambut dengan bentuk dan struktur bangunan masjid yang begitu megah nan tradisional dengan pondasi keseluruhan menggunakan kayu belian.

Masjid ini mayoritas dilapisi oleh cat berwarna kuning, ditambah dengan tambahan cat berwarna hijau di beberapa bagian dan menggunakan atap sirap. Masjid Sultan Muhammad Syafi'uddin II Kesultanan Sambas mampu menampung sekitar 1.000 jamaah untuk suatu kegiatan ibadah.

Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II didirikan tahun 1303 Hijriah atau 10 Oktober 1885 Masehi, yang menjadikan masjid ini sebagai masjid tertua di Kabupaten Sambas dan juga merupakan salah satu masjid tertua di Provinsi Kalimantan Barat.

Masjid ini sejak awal berdiri telah menjadi pusat penyebaran agama Islam di wilayah Kesultanan Sambas hingga ke Negeri Brunai dan Malaysia, sebab berdirinya kesultanan dan masjid ini tidak terlepas dari pengaruh Kerajaan Brunai.

 

 

Berada di samping Muara Ulakkan, muara yang mempertemukan Sungai Sambas Besar, Sungai Sambas Kecil dan Sungai Teberau, fondasi-fondasi masjid ini pun dibangun begitu kuat dan kokoh.

Arsitektur masjid ini bergaya khas melayu, dengan mayoritas bahan bangunan menggunakan kayu ulin atau kayu besi. Masjid ini memiliki 2 menara yang berada disamping kiri dan kanan mimbar masjid.

Dari luar masjid, mata kita akan melihat warna kuning yang mendominasi masjid ini. Warna kuning merupakan identitas dari warna kesultanan melayu dan memiliki arti kejayaan serta budi pekerti.

 

Masjid ini berdiri di atas lahan berukuran 22 x 22 m. Ketika mata tak ingin melepaskan pandangan dari indahnya masjid ini, maka kita akan melihat masjid berbentuk bujur sangkar terbuat dari bahan kayu ulin.

Masjid terdiri dari ruang utama, serambi, dan menara untuk menuju ruang utama harus melalui serambi yang terdapat di bagian depan.

 

 

Serambi Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II berbentuk persegi panjang, mempunyai empat anak tangga dan juga pintu di sisi utara dari besi dengan dua daun pintu. Pintu tersebut tingginya hanya 1/3 dinding serambi dan di kiri-kanannya masing-masing mempunyai lima buah jendela tanpa daun jendela berbentuk persegi panjang dan bagian atasnya berupa lengkungan. Sedangkan pada sisi timur dan barat masing-masing mempunyai empat jendela yang sama dengan jendela utara.

 

 

Ketika kita masuk ke dalam bagian masjid, kita akan disuguhkan dengan interior masjid yang indah. Semua bagian di dalamnya menggunakan kayu belian yang diberi pernis. Terdapat 16 tiang utama penyokong masjid. Pada bagian tengah, terdapat 8 tiang utama simbolik Sultan Muhammad Syafiuddin II, yaitu sultan ke 8.

Di sekeliling kita, terdapat banyak jendela yang membantu pencahayaan masjid. Sungguh, suasana yang nyaman dan sakral yang menjadi ciri khas dari masjid ini.

Di sisi lainnya, kita akan melihat bagian yang menjorok keluar dan berfugsi sebagai mihrab. Mihrab ini bersatu dengan ruang utama, namun memiliki atap tersendiri. Atapnya bertingkat dua, dan antara satu atap dengan atap lainnya terdapat dinding dengan lubang angin berbentuk bulat. Atap bagian atas berbentuk kerucut dengan tiang bulat. Di dalam mihrab, terdapat mimbar kecil.

 

 

Mimbar antik ini berwarna coklat kayu dilengkapi dengan warna hijau dan keemasan di bagian depannya. Kita bisa melihat bahwa mimbar ini memiliki ciri khas dengan ukiran-ukirannya yang indah. Kabarnya, mimbar ini berasal dari Palembang dan dipersembahkan oleh para pelaut dan pedagang untuk sultan Istana Alwatzikhoebillah.

 

 

Setelah kita melihat dan mengagumi masjid di bagian bawah, sebaiknya kita juga melihat masjid di bagian atas. Untuk menuju ke bagian atas masjid, ada 2 buah tangga yang menghubungkannya. Struktur tangga yang disusun pun terlihat tradisional. Terdapat satu tangga yang terlihat unik yakni bentuknya berupa beberapa kayu balok yang dipasang untuk membantu telapak kaki menuju ke atas, setingkat demi setingkat.

Di bagian atas masjid, terdapat ruangan untuk mengaji dan mengajarkan ajaran-ajaran agama Islam. Di bagian belakang masjid terdapat sebuah bejana kuno yang dahulu dijadikan tempat sultan mandi atau bersuci.

Ciri khas lain dari masjid ini ialah terdapat tulisan arab di bagian atas masjid yang berbunyi “Innama yagmuru masajidillahu man ammana billah wal yaumil akhir", yang berarti “Hanya orang-orang yang memakmurkan mesjid Allah adalah orang-orang yang beriman dengan Allah dan hari akhir yang akhir”.

Siapapun yang telah berkunjung ke Masjid Jami’ Sultan Muhammad Syafiuddin II, memiliki kesan yang takkan terlupakan. Kesan religius, historis, keakraban dan kedekatan begitu terlihat dari kehidupan sekitar, kehidupan masyarakat di Kesultanan Sambas.

 

Transportasi Menuju Masjid Sultan Muhammad Syafi’uddin II

Kendaraan Pribadi

        

         Jika anda memulai perjalanan dari Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Pontianak – Kabupaten Sambas -  Jalan Pembangunan – Jalan Tabrani – Jalan Sultan Moh. Tsyafiuddin – Jalan Gusti Hamzah – Jalan Ahmad Marzuki - Belok Kiri – Masjid Sultan Muhammad Syafi’uddin II. Waktu tempuh dari Kota Pontianak jika tanpa hambatan macet sekitar 4 jam 40 menit / 242 Km.

 

Kembali ke:

Wisata di Sambas

Wisata di Kalimantan Barat

Wisata di Nusantara

Informasi tempat wisata dan lainnya bisa di akses dengan mudah menggunakan aplikasi IPD Belajasaku,bisa di pilih sesuai propinsi.Bagi pengguna android silahkan downlod aplikasinya klik logo di bawah ini

Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas
Masjid Sultan Muhammad Syafiudin II Sambas