Ingin memasang iklan diskon anda di sini? Cepat dan Mudah. Klik Tombol di bawah ini dan silahkan pasang iklan diskon anda.


Tegak menjulang dengan berbagai macam ukuran. Memiliki bentuk berupa sebelas bambu runcing dan berwarna kuning. Berdiri kuat tertancap ke bumi. Menyimbolkan gigih dan kuatnya perjuangan yang dilakukan oleh pejuang Kalimantan Barat.
Tugu ini memiliki beberapa sebutan di antaranya Tugu Bambu Runcing dan Tugu Bundaran Untan, namun lebih dikenal dengan nama Tugu Digulist yang merupakan satu di antara ikon utama Kota Pontianak.
Tugu ini terletak di Bundaran Universitas Tanjungpura, Jalan Jendral Ahmad Yani, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.
Tugu Digulist tidak memiliki jam buka pada umumnya, tugu ini dibuka setiap saat. Namun, jika kita ingin melihat keindahan tugu ini lebih “menyala”, lebih baik anda berkunjung pada malam hari. Sebab, lampu taman dan air mancur akan diaktifkan oleh pihak penjaga tugu dan taman digulist.

Jika kita ingin menuju ke pusat kota dari Bandar Udara Supadio, maka kita akan melewati sebuah tugu yang bentuknya seperti bambu runcing.
Kata tugu erat kaitannya dengan monumen, yaitu sebuah bangunan yang digunakan sebagai tanda untuk mengingat peristiwa penting, bersejarah, ataupun bentuk penghormatan terhadap peristiwa tertentu. Ya, begitu juga dengan tugu ini, yaitu Tugu Digulist. Tugu yang berdiri di areal dengan luas ± 1.779 m2, dengan diameter 47,4 meter, akan menyambut kedatangan siapapun jika anda berkunjung ke Kota Pontianak.

Tugu ini diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat, H. Soedjiman pada tanggal 10 November 1987. Dengan bangunan awal bercat kuning menyerupai bambu yang berjumlah sebelas.
Mungkin, ada yang bertanya, mengapa tugu ini dibuat berjumlah sebelas? Apakah ada maknanya?
Tentu, Tugu Digulist ini memiliki sejarah yang bermakna. Bermula dari terbentuknya Sarikat Islam pada tahun 1914 di Ngabang, kemudian dibentuknya partai Sarekat Islam tahun 1923, dimana menjadi awal sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat.
Belanda menjadi khawatir akan pergerakan terebut, sehingga Pemerintah Hindia Belanda menangkap sebelas orang tokoh yang berpengaruh di Kalimantan Barat. Kemudian mereka dibuang ke penjara Boven Digoel di Papua.
Dari nama penjara di mana tokoh tersebut dibuang itulah, kemudian tugu ini disebut dengan Tugu Digulist. Tiga dari mereka meninggal saat menjalani pembuangan di Boven Digoel, lima lainnya wafat saat Peristiwa Mandor, dan tiga lainnya wafat karena sakit. Untuk menghormati akan perjuangan kesebelas tokoh tersebut, maka dibangunlah Tugu Digulist.
Berikut daftar nama sebelas tokoh tersebut :
|
No |
Nama Tokoh Pejuang |
Asal Daerah |
|
1 |
H. Rais bin H. Abdurahman |
Ngabang |
|
2 |
Gusti Hamzah |
Ketapang |
|
3 |
Djeranding Sari. A alias Abdurrahman |
Kapuas Hulu |
|
4 |
Gusti Sulung Lelanang |
Ngabang |
|
5 |
Gusti Situt Machmud |
Ngabang |
|
6 |
Gusti Djohan Idrus |
Ngabang |
|
7 |
Achmad Sood bin Bilal Achmad |
Ngabang |
|
8 |
Achmad Marzuki |
Pontianak |
|
9 |
Moehammad Hambal alias Bung Hambal |
Ngabang |
|
10 |
Moehammad Sohor |
Ngabang |
|
11 |
Ya’ M. Sabran |
Ngabang |

Pemerintah Kota Pontianak saat ini sedang gencar dalam mempercantik area sekitar tugu ini agar lebih banyak dikunjungi oleh masyarakat, terlebih tugu ini menyimpan sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Barat.
Selain menambahkan air mancur berwarna-warni pada tugu ini, di sekelilingnya bisa kita lihat, juga ditambah beberapa taman sehingga memberi nuansa sejuk dan nyaman. Taman ini diberi nama Taman Digulis Pontianak. Di taman ini, kita bisa berfoto dengan latar nama taman tersebut, maupun latar Tugu Digulis sendiri pada malam hari. Taman ini berada mengelilingi bundaran Tugu Digulis dan terdapat tanaman serta bunga yang menghiasi taman ini.
Selain itu, taman ini digunakan pada beberapa kegiatan di siang hari, seperti Kampanye Hak Anak yang biasanya dilakukan oleh forum anak, lalu beberapa peringatan hari besar juga diselenggarakan di Tugu Digulist ini, mengingat letaknya yang strategis yaitu di jalan utama Kota Pontianak.
Begitu indah dan menyejukkan! Itu kalimat yang akan kita gumamkan pada malam hari jika kita berkunjung ke Tugu Digulist. Pada sabtu malam, biasanya terdapat beberapa komunitas yang akan berkumpul di taman ini, seperti komunitas motor gede (moge), SEPOK (Sepeda Ontel Kalimantan Barat), dan komunitas lainnya.

Di sisi lain Tugu Digulist, yang menambah sejuk dan asrinya tugu ini yaitu terdapatnya Arboretum Universitas Tanjungpura. Hutan Arboretum merupakan kebun koleksi tanaman dan pepohonan khusus Kalimantan Barat, sebagai tempat keanekaragaman hayati, pengembangan hutan kota, serta sebagai sarana rekreasi dan hiburan masyarakat.
Tak heran, jika kita berkunjung ke Tugu Digulist, maka mata kita akan dimanjakan dengan pepohonan rindang yang berada tak jauh dari tugu ini serta suasana sejuk begitu terasa seakan menyambut siapa saja yang singgah ke kawasan tersebut.

Kawasan hutan kota ini juga dapat dipergunakan sebagai tempat kejadian photography dan flim, jogging dan cycling, ekowisata dan outbound. Sylva Untan kini tengah mengusahakan agar arboretum bisa lebih dikenal di dunia internasional. Mereka saat ini sedang membangun jaringan dengan lembaga-lembaga lingkungan di luar negeri untuk memperkenalkan arboretum. Sejumlah persiapan juga dilakukan. Misalnya pendataan secara lebih detail flora dan fauna yang ada di Arboretum. Selain itu juga penambahan fasilitas di kawasan ini, seperti pembangunan meeting room, rail untuk keliling kawasan, dan juga home stay.
Namun salah satu kendala untuk mewujudkannya adalah masalah pendanaan. Aktivis Sylva Untan Marcel Gerensa mengatakan, pihaknya kini tengah berupaya menggalang dana agar berbagai kebutuhan untuk mengenalkan kawasan arboretum ke dunia internasional bisa terwujud.
Jika kita telah selesai menjelajahi wilayah sekitar Tugu Digulist, maka bagian lain dari tugu tersebut, tepatnya di bagian kanan dari Taman Digulis, terdapat beberapa jejeran kantin yang siap memberikan hidangan dan minuman.
Dikarenakan letaknya yang berada di dekat taman dan Tugu Digulits, maka kantin ini juga bernama Kantin Digulist. Pada siang dan malam hari, kantin ini akan dipenuhi dengan mahasiswa dari Universitas Tanjungpura, karena letaknya berada di kawasan universitas itu sendiri.
Jadi, anda penasaran dengan keindahan dan sisi-sisi yang beragam dari Tugu Digulist?
Selamat menjelajahi Tugu Digulist, tugu yang penuh makna, dikelilingi oleh berbagai macam warna dan sisi-sisi tugu yang berbeda.
Jika memulai perjalanan dari Bandara Supadio, Kabupaten Kubu Raya, maka anda bisa memilih untuk melewati Jalan Arteri Supadio – Jalan Ahmad Yani – Bundaran Tugu Digulist. Waktu tempuh dari Bandara Supadio sekitar 21 menit / 12,9 Km.
Jika anda memulai perjalanan dari Kota Singkawang sebagai satu di antara pusat wisata di Kalimantan Barat, maka anda bisa memulai perjalanan dari Kota Singkawang – Kota Pontianak – Jalan Sultan Hamid/ Jembatan Kapuas I – Jalan Pahlawan – Jalan Veteran – Belok Kiri ke Jalan Ahmad Yani – Tugu Digulits. Waktu tempuh dari Kota Singkawang jika tanpa hambatan macet sekitar 3 jam 15 menit / 152 Km.
Kembali ke: