Mengenal Sistem 3-Phase pada Instalasi Listrik

Ditulis oleh Administrator2 pada Senin, 01 Oktober 2018 | Dilihat 97589 kali
Mengenal Sistem 3-Phase pada Instalasi Listrik

 

Mengapa Digunakan Sistem 3 Phase?

Catatan Admin: Artikel ini adalah migrasi dari artikel dengan judul dan isi yang sama, sebelumnya berada di InstalasiListrikRumah.com

Sering dijumpai beberapa pertanyaan mengenai sistem 3-phase yang diaplikasikan pada sistem kelistrikan PLN:

  • Apa itu sistem 3 phase?
  • Mengapa kabel listrik yang disambung ke instalasi listrik rumah terdiri kabel phase dan kabel netral?
  • Mengapa kabel phase bertegangan sedangkan kabel netral tidak bertegangan?
  • Mengapa ada arus netral yang datang dari jaringan listrik PLN?

Semuanya kita coba ulas artikel ini.

Tetapi terus terang, tulisan ini dibuat sebagai nice to know saja. Isinya tidak rumit-rumit dengan rumus atau teori yang mendalam. Walaupun begitu, kami berusaha sebaik mungkin membuatnya lebih mudah dimengerti oleh pembaca yang merasa awam soal listrik. Mudah-mudahan cukup bermanfaat dan mencerahkan.

Mari kita ulas mendalam

Sistem 3-Phase dan Kelebihannya

Hampir seluruh perusahaan penyedia tenaga listrik menggunakan sistem listrik 3-phase. Sistem ini diperkenalkan dan dipatenkan oleh Nikola Tesla pada tahun 1887 dan 1888.

Sistem ini secara umum lebih ekonomis dalam penghantaran daya listrik, dibanding dengan sistem 2-phase atau 1-phase, dengan ukuran penghantar yang sama. Dikatakan ekonomis karena sistem 3-phase dapat menghantarkan daya listrik yang lebih besar.

Demikian juga peralatan listrik yang besar, seperti motor-motor listrik, lebih bertenaga dengan suplai 3 phase.

Aplikasi pada PLN

PLN mengaplikasikan sistem 3-phase dalam keseluruhan sistem kelistrikannya, mulai dari pembangkitan, transmisi daya hingga sistem distribusi.

Agar lebih jelas, sistem kelistrikan PLN secara umum dibagi dalam 3 bagian besar :

1. Sistem Pembangkitan Tenaga Listrik

Terdiri dari pembangkit-pembangkit listrik yang tersebar di berbagai tempat, dengan jenis-jenisnya antara lain:

  • PLTA (menggunakan sumber tenaga air)
  • PLTU (menggunakan sumber batubara)
  • PLTG (menggunakan sumber dari gas alam)
  • PLTGU (menggunakan kombinasi antara gas alam dan uap).

Pembangkit-pembangkit tersebut mengubah sumber-sumber alam tadi menjadi energi listrik.

2. Sistem Transmisi Daya

Energi listrik yang dihasilkan dari berbagai pembangkit tadi harus langsung disalurkan. Karena energi listrik sebesar itu tidak bisa disimpan dalam baterai. Akan butuh baterai kapasitas besar untuk menyimpan energi sebesar itu dan tentu akan tidak ekonomis.

Sebagai gambaran, accu 12Vdc dengan kapasitas 50Ah akan menyimpan energi listrik maksimal kira-kira 600 Watt untuk pemakaian penuh selama 1 jam. Sedangkan total pemakaian daya listrik untuk jawa-bali bisa melebihi 15,000 MW (15,000,000,000 Watt). Jadi.Berapa besar baterai untuk penyimpanannya?

Baca juga:

Jenis Baterai yang Sesuai untuk System Panel Surya

Untuk itulah suplai energi listrik bersifat harus sesuai dengan permintaan saat itu juga (real time demand) dan tidak disimpan. Karena itu sistem transmisi daya listrik dibangun untuk menghubungkan pembangkit-pembangkit listrik yang tersebar tadi dan menyalurkan listriknya langsung saat itu juga ke pelanggan-pelanggan listrik.

Saluran penghantarannya terbagi atas:

  • SUTET (Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi) dengan tegangan 500kV
  • SUTT (Saluran Udara Tegangan Tinggi) dengan tegangan 70kV dan 150kV

Saluran transmisi SUTET dan SUTT mudah dikenali karena pastinya nggak asing dech dengan bentuknya yang kaya menara itu ya..

Di Jawa-Bali, sistem transmisi daya listrik ini diatur oleh P3B (Penyaluran dan Pusat Pengaturan Beban) Jawa-Bali yang berlokasi di daerah Gandul, Cinere, Bogor.

3. Sistem Distribusi Daya Listrik

Dari sistem transmisi daya tadi, listrik akan sampai ke pelanggan-pelanggannya (terutama perumahan) dengan terlebih dahulu melalui Gardu Induk dan kemudian Gardu Distribusi.

Gardu Induk mengambil daya listrik dari sistem transmisi dan menyalurkan ke Gardu-gardu distribusi yang tersebar ke berbagai daerah perumahan. Dan di dalam gardu distribusi, terdapat trafo distribusi yang menyalurkan listrik langsung ke rumah-rumah dengan melewati JTR (Jaringan Tegangan Rendah), yang biasanya ditopang oleh tiang listrik.

Perlu diingat kembali, bahwa sistem kelistrikan yang dihasilkan dari pembangkit sampai JTR adalah sistem 3 phase.

Teori Sistem 3-Phase

Listrik 3-phase adalah listrik AC (alternating current) yang menggunakan 3 penghantar yang mempunyai tegangan sama tetapi berbeda dalam sudut phase sebesar 120 degree.

Ada 2 macam hubungan dalam koneksi 3 penghantar tadi :

  • Hubungan bintang (Y atau star)
  • Hubungan delta.

Sesuai bentuknya, yang satu seperti huruf Y dan satu lagi seperti simbol delta. Tetapi untuk bahasan ini kita akan lebih banyak membicarakan mengenai hubungan bintang saja.

Sistem 3-Phase Hubungan Bintang dengan tegangan 380/220V

Gambar disamping adalah contoh sistem 3-phase yang dihubung bintang. Titik pertemuan dari masing-masing phase disebut dengan titik netral. Titik netral ini merupakan common dan tidak bertegangan.

Ada 2 macam tegangan listrik yang dikenal dalam sistem 3-phase ini:

  • Tegangan antar phase (Vpp : voltage phase to phase atau ada juga yang menggunakan istilah Voltage line to line)
  • Tegangan phase ke netral (Vpn : Voltage phase to netral atau Voltage line to netral)

Sistem tegangan yang dipakai pada gambar dibawah adalah yang digunakan PLN pada trafo distribusi JTR (380V/220V), dengan titik netral ditanahkan.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai gelombang sinusidal 3 phase dan rangkaian star-delta dapat membuka link di bawah ini.

Baca juga:

Memahami Sistem 3 Phase dalam Kelistrikan

Di Indonesia Lebih Dikenal Dengan Nama R-S-T

Umumnya di Indonesia, sistem 3-phase ini lebih familiar dengan nama sistem R-S-T. karena memang umumnya menggunakan simbol R, S , T untuk tiap penghantar phasenya serta simbol N untuk penghantar netral. Netral ini berasal dari trafo step down.

Instalasi Listrik Perumahan Menggunakan Sistem 1 Phase

Kita langsung saja pada sistem yang dipakai PLN. Seperti pada gambar tersebut, di dalam sistem JTR yang langsung ke perumahan, PLN menggunakan tegangan antar phase 380V dan tegangan phase ke netral sebesar 220V.

Rumusnya seperti ini :

Vpn = Vpp/3 > 220V = 380/3

Instalasi listrik rumah akan disambungkan dengan salah satu kabel phase dan netral, maka pelanggan menerima tegangan listrik 220V. Perhatikan pada gambar dibawah ini :

Gambar. Sistem Listrik 3-Phase PLN 380/220V pada Jaringan Distribusi Perumahan

Contoh 3-phase hubungan delta bisa dilihat di sisi primer dari trafo diatas (sebelah kiri). Sedangkan sisi sekunder (sebelah kiri) terhubung bintang.

Hubungan delta pada umumnya tidak mempunyai netral.

Arus Netral pada sistem 3-phase: Antara Teori dan Praktek

Salah satu karakteristrik sistem 3-phase adalah bila sistem 3-phase tersebut mempunyai beban yang seimbang, maka besaran arus phase di penghantar R-S-T akan sama sehingga In (arus netral) = 0 Ampere.

Contohnya pada gambar diatas : misal ketiga rumah tersebut mempunyai beban yang identik seimbang. Maka arus netral sebagai penjumlahan dari ketiga arus phase tersebut akan menjadi :

Ir + Is + It = In > Bila beban seimbang maka Ir = Is = It dan In = 0 Ampere

Kok hasilnya bisa nol? Karena sistem penjumlahannya adalah secara penjumlahan vektor, bukan dengan penjumlahan matematika biasa (jadi bukan 1+1+1=3).

Baca juga:

Pengertian 1 Phase dalam Kelistrikan

Pada prakteknya, beban seimbang dari ketiga phase tadi hampir mustahil dicapai. Karena beban listrik setiap rumah belum tentu identik.

Bila terjadi ketidakseimbangan beban, maka besar arus listrik setiap phase tidak sama. Akibatnya arus netral tidak lagi sebesar 0 Ampere. Semakin tidak seimbang bebannya, maka arus netral akan semakin besar.

Karena sifat arus listrik adalah loop tertutup agar bisa mengalir, maka arus netral tadi akan mengalir ke instalasi listrik milik pelanggan dan melewati grounding sistem untuk masuk ke tanah, yang akhirnya mengalir balik ke titik grounding trafo kemudian kembali masuk ke instalasi listrik rumah, demikian seterusnya.

Walaupun pelanggan listrik tersebut mematikan daya listrik yang masuk ke rumah, dengan MCB di kWh-meter pada posisi OFF, arus netral tetap akan mengalir.

Gambar. Arus Netral ke kWh-Meter Saat Terjadi Beban 3 Phase Tidak Seimbang

Apa pengaruhnya pada Meter Prabayar?

Adanya arus netral yang tidak diinginkan ini akan membuat masalah pada Meter Prabayar (MPB) bila pengawatan pada MPB tidak benar.

Karena MPB cukup peka mengukur perbedaan antara arus phase dan netralnya.

Untuk pejelasan lebih lanjut mengenai Pengaruh arus netral ini pada meter prabayar akan kita bahas pada artikel selanjutnya.

Oke dech sobatsampai disini dulu tulisannya. semoga sobat menjadi lebih jelas memahami sistem kelistrikan 3 phase dan fenomena arus netralnya serta hubungannya dengan masalah pada MPB.

Mudah-mudahan bermanfaat. Mohon maaf bila tulisannya malah jadi rumit dan sulit dimengerti.

Bila ada pertanyaan silahkan saja. Walaupun mungkin anda awam istilah teknis, yang penting maksudnya tersampaikan.

Juga mohon koreksinya bila ada yang harus diperbaiki.

ANDA ALAMI MASALAH KELISTRIKAN???

CARI SAJA PELAYANAN JASA LISTRIK DI

APLIKASI IPD Belajasaku..

DOWNLOAD KLIK LOGO DIBAWAH INI

Tag: info pendidikan

 
;
;

Komentar Anda

Jadilah yang pertama dalam memberi komentar pada berita / artikel ini
Silahkan Login atau Daftar untuk mengirim komentar
Disclaimer